I n s t a g r a m


Obrolan ringan saja.
(Semoga tidak menjadi berat).
Seringkali kita menilai seseorang dari apa yang dia “update”. Apakah dia orang yang baik, buruk, rendah hati, rajin ibadah, sayang orang tua, sosialita, dan sebagainya. Kita bisa “judge” orang itu bak pakar telematika, yang bisa membaca apa yang terjadi sebenarnya hanya dari foto yang kita lihat.
Hal yang privasi sekalipun kini menjadi hal umum dengan adanya snapgram. Apa yang sedang kita lakukan bisa kita share kapan saja dan di mana saja. Dengan begitu - sekali lagi - kita bisa dengan mudahnya menilai seseorang.
Pepatah “jangan menilai buku hanya dari covernya saja” mungkin telah patah karena kita bisa melihat hampir keseluruhan orang itu meski hanya dari snapgram - yang sesungguhnya bahwa itu bukan “isi buku”, melainkan masih berupa “cover”.
Kita lupa bahwa kejadian apa yang kita lihat sesungguhnya bukanlah keseluruhan dari kejadian tersebut jika kita tidak benar-benar berada di tempat dan waktu yang sama. Kita dengan seenaknya menilai orang itu “kaya” dengan seringnya melihat seseorang terlalu sering upload foto atau video - waktu sekarang di tempat-tempat “berkelas”. Padahal belum tentu adanya. Dengan seenaknya pula kita menilai seseorang begitu merana karena sering upload sesuatu yang berbau “galau”, bisa jadi hanya pencari simpatian belaka.
Benar sekali kata pepatah, “tak kenal maka tak sayang”. Orang yang sudah kenal sekalipun, pasti masih ada banyak hal yang belum tentu kita ketahui dari orang itu. Bagaimana jika hanya melihat kehidupannya di sosial media? Pantaskah kita menilai mereka hanya sebatas itu?
Pacar saya berkata, “setiap orang pasti ada sisi baiknya”
Dan saya mengambil kesimpulan, jika kita masih membenci seseorang, maka kita belum mengenal dengan baik seseorang tersebut.
Mata kita telah disamarkan dengan “kejadian yang separuh terjadi”. Yang tidak benar-benar kita lihat keseluruhan kejadiannya. Dan dibutakan dengan foto dan caption yang mempunyai seribu makna.
Jangan gunakan untuk menilai yang buruk, melainkan yang baik. Tetaplah berprasangka baik. Perkara orang menilaimu buruk, itu urusan dia dengan Tuhan, bukan urusanmu.



(Bekasi, 09 September 2017)

Comments

Popular Posts