Akan Menjadi Orangtua Seperti Apa?

Tulisan ini terinspirasi setelah saya menonton sebuah acara pencarian bakat dalam bidang "vokal". Setelah saya menonton acara tersebut di Youtube, saya jadi terpikir apabila saya mempunya anak dengan bakat seperti itu, apakah saya siap untuk mendukung seluruh bakat dan minat anak saya atau tidak?

Saya sempat mendiskusikan ini dengan suami saya, tentang bagaimana kita mendidik anak kita kelak. Suami saya ingin kami menjadi orangtua yang supportif, terutama dalam hal pendidikan. Kami akan berusaha memberikan pendidikan yang terbaik, baik itu di sekolah ataupun di rumah. Masalah pendidikan mungkin terdengar sudah selesai. Namun bagaimana dengan non-akademik? Itu merupakan hal yang masih belum bisa kita rencanakan sepenuhnya karena baru bisa kita laksanakan ketika kita mengetahui bakat dan minat anak kita kelak.

Saya terlahir dari orangtua yang mungkin sudah terbilang "cukup tua" untuk mempunyai anak. Saya dilahirkan pada saat usia Ibu saya 39 tahun dan usia Bapak saya 42 tahun. Dari kecil, saya terbiasa diurus "mba" karena Bapak saya bekerja dan Ibu saya berjualan sayur di rumah. Ketika saya masih TK, ibu saya masih bisa mengurus segala keperluan saya di TK sendiri, baik itu saat pembagian rapot ataupun sekedar menghadiri acara-acara yang diadakan TK tempat saya sekolah. Namun semenjak saya SD, SMP dan SMA, Ibu saya sudah semakin tua sehingga kakak saya yang pertama yang harus mengambil alih tugas sebagai wali saya.

Sampai pada saat ini, saya menyadari kesalahan saya sewaktu SMA yang masih sangat saya sayangkan sampai sekarang. Pada saat SMA, SMA saya mengadakan psikotes IQ, minat dan bakat. Dan hasil psikotes saya mengarah pada minat dan bakat "psikologi", "hubungan masyarakat", "seniman" dan "musik". Saya sangat menyadari saat itu bahwa saya ingin sekali menjadi guru SD atau psikolog. Namun pada saat itu saya gagal ikut tes SNMPTN karena orangtua saya terlalu khawatir jika saya kuliah di kampus negeri di luar kota. Dan karena saat itu kondisi Bapak sudah pensiun, jadi saya disarankan untuk mengambil kampus dengan biaya terjangkau dan mudah untuk mencari pekerjaan kelak. Akhirnya saya berkuliah di jurusan Manajemen Informatika di AMIK BSI Bekasi.

Setelah lulus kuliah, saya langsung mendapat tawaran magang di perusahaan tempat kakak saya bekerja sebagai admin data entry. Cukup sesuai memang dengan jurusan kuliah saya, meskipun tidak sepenuhnya. Di samping itu, saya juga hobi desain grafis. Saya hobi membuat vector, WPAP, siluet, ataupun kebutuhan desain lainnya. Saya menjadikan hobi saya sebagai freelance. Setelah saya magang, saya bekerja di grup perusahaan yang sama sebagai admin technical support selama 2 tahun. Cukup lama saya bekerja di bidang tersebut dan mendapat banyak pelajaran seperti kedisiplinan, pentingnya memanajemen suatu pekerjaan, dan sudah beberapa kali bos saya memesan desain saya. Terlepas dari pekerjaan tersebut, saya melanjutkan perjalanan di sebuah tempat les pemrograman dasar untuk anak. Saya pikir ini merupakan tempat yang cukup cocok dengan jurusan dan minat saya pada dunia anak-anak. Kenyataannya memang begitu, saya cukup menikmati pekerjaan di sana sebagai pengajar sampai saat ini yang kurang lebih sudah berjalan 1 tahun.

Di tempat saya bekerja sekarang saya jadi mengenal berbagai macam karakter anak. Ada anak yang pintar, namun minatnya bukan di dunia pemrograman jadi dia kurang maksimal dalam belajar. Ada pula anak yang kurang cukup menguasai namun minatnya menjadi programmer sangat tinggi jadi dia belajar dengan usaha lebih sehingga tetap bisa mengikuti pelajaran dengan sangat baik. Ada orangtua yang menyuruh anaknya les hanya sekedar menambah kegiatan di luar sekolah, ada juga yang memang anaknya sangat menyukai tetapi malah tidak ada waktu untuk les sehingga lebih memilih untuk mundur.

Dari situ saya belajar, bahwa sejatinya mempunyai anak bukan sekedar mempunyai keturunan dari kita dan pasangan kita, melainkan benar-benar "sebuah titipan" yang harus kita jaga dan kita ketahui betul seperti apa anak kita. Kita harus mengetahui anak kita cocoknya sekolah di sekolah umum, sekolah agama ataupun sekolah di rumah (home schooling). Kita harus mengetahui bagaimana sifat dan karakter anak kita sehingga kita bisa tahu cara mendidik macam apa yang bisa kita terapkan. Dan yang paling penting, kita harus tahu minat dan bakat anak kita. Karena tentunya kita tidak ingin melihat anak kita "tersesat" sepanjang masa hidupnya.

Menurut saya penting mengetahui sejak dini minat dan bakat anak kita, tetapi akan lebih baik ketika kita mengetahui minat dan bakat mereka di usia mereka yang cukup. Cukup untuk mengenal diri mereka sendiri, serta cukup untuk mengenal mana yang mereka ingin tekuni dan mana yang tidak. Saya bukan dari jurusan psikologi, seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya. Namun saya ingin mencoba belajar untuk menjadi orangtua yang sebaik-baiknya untuk anak saya kelak. Ketika anak kelak menginjak usia TK dan SD, mungkin sebaiknya kita banyak mengenalkan banyak hal terlebih dahulu, agar dia mempunyai banyak pilihan atas apa yang benar-benar akan dia sukai dan minati nantinya. Agar dia benar-benar menemukan apa yang sekiranya sangat dia sukai. Pada saat menginjak SMP dan SMA, kita sebagai orangtua sebaiknya mengetahui betul di mana minat dan bakat anak kita. Dari situlah kita bisa mengembangkan minat dan bakatnya agar dia tidak tersesat. Namun jika anak tersebut belum menemui minat dan bakatnya, sebaiknya kita beri pilihan dan biarkan dia memilih atas dasar keinginan dia sendiri. Melampiaskan cita-cita kita yang tidak tercapai kepada anak kita kelak adalah hal yang menurut saya harus kita hindari. Karena apa yang telah kita lalui, sudah berlalu, dan kehidupan anak kita adalah kehidupan milik dia sendiri yang tidak boleh kita ikut campur ke dalamnya. Tugas kita hanya bisa menjaga dan memastikan dia tetap berada di jalur yang benar.

Anak adalah titipan dari Tuhan. Sebaik-baiknya titipan adalah kita harus menjaga apa yang telah dititipkan tanpa mengubah ataupun merasa memiliki apa yang telah dititipkan itu. Setiap manusia memiliki kehidupan sendiri, dan anak adalah manusia yang harus mempunyai kehidupan sendiri. Kita tidak bisa memaksa anak menjadi seperti apa yang kita inginkan. Tugas kita adalah menjaga, memahami, mengawasi, tanpa mengubah dia menjadi seperti yang kita inginkan.

Semoga bagi para pembaca yang belum diberi amanah, disegerakan. Dan bagi yang sudah diberi amanah, semoga bisa menjaga amanah tersebut dengan sebaik-baiknya.
:)


Bekasi, 03 Januari 2020.

Comments

Popular Posts